Monthly Archives: November 2017

Tata Kelola Organisasi “bisnis” Berbasis Sistem Manajemen Mutu SNI ISO 9001:2015

Published by:

Oleh: Ade Khaerudin Taufiq

 

Pokok Bahasan

I.Perkenalan

II.Tujuan dan Sasaran Kegiatan

III.Istilah dan Definisi

IV.Sejarah ISO 9001

V.Persaingan Global/ MEA

VI.Mengapa Perlu ISO 9001?

VII.Konsekuensi Penerapan ISO 9001

VIII.Deteksi Dini Versi ISO 9001

IX.Tujuh Prinsip Manajemen Mutu

X.Keuntungan Menerapkan SMM SNI ISO 9001:2015

XI.Masalah/Hambatan Dalam Menerapkan SMM SNI ISO 9001:2015

XII.Struktur dan Interpretasi SNI ISO 9001:2015

XIII.Langkah-langkah Penerapan SMM SNI ISO 9001:2015

XIV.Curah Pikir / Penutup

 

Selengkapnya bisa anda Download Disini

Panduan 5S- 5R dan langkah-langkah penerapannya

Published by:

Semua kantor pasti menginginkan tempat kerja yang selalu tampak bersih, rapi, dan setiap orang mempunyai kemauan dan kedisiplinan diri yang berbeda-beda, guna  mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi di tempat kerja. Namun kenyataannya keadaan seperti ini sulit terjadi di setiap tempat kerja. Tidak sedikit tempat kerja yang selalu mengeluh begitu susahnya dan tidak sedikit untuk membuang waktu hanya demi mencari data dan atau peralatan kerja yang lupa penempatannya. Bukan  itu saja, kita juga kurang nyaman dengan kondisi arsip-arsip di tempat kerja yang kurang rapi bahkan berantakan, sehingga hal ini dapat memicu kondisi emosional kita di tempat kerja.

Terdapat 5 (lima) langkah dalam penerapan 5R (5S) di tempat kerja yaitu : Ringkas, Rapi Resik, Rawat dan Rajin.

Penjelasan umum penerapan 5R (5S) tersebut antara lain :

  1. Ringkas
    • Memilah barang yang diperlukan & yang tidak diperlukan.
    • Memilah barang yang sudah rusak dan barang yang masih dapat digunakan.
    • Memilah barang yang harus dibuang atau tidak.
    • Memilah barang yang sering digunakan atau jarang penggunaannya.
  2. Rapi
    • Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan alur proses kerja.
    • Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan keseringan penggunaannya, keseragaman, fungsi dan batas waktu penggunaannya.
    • Pengaturan (pengendalian) visual supaya peralatan/barang mudah ditemukan, teratur dan selalu pada tempatnya.
  3. Resik
    • Membersihkan tempat kerja dari semua kotoran, debu dan sampah.
    • Menyediakan sarana dan prasarana kebersihan di tempat kerja.
    • Meminimalisir sumber-sumber kotoran dan sampah.
    • Memperbarui/memperbaiki tempat kerja yang sudah usang/rusak.
  4. Rawat
    • Mempertahankan 3 kondisi di atas dari waktu ke waktu.
  5. Rajin
    • Mendisiplinkan diri untuk melakukan 4 hal di atas.

selengkapnya dapat anda Download Here

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Published by:

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Hampir semua industri manufaktur dan jasa akan senantiasa dihadapkan pada kompetisi yang ketat sekali, dimana hal ini tidak hanya terjadi pada perusahaan yang memproduksi barang atau jasa sejenis tetapi hampir secara keseluruhan mengalami persaingan tersebut, hal ini didasarkan karena setiap perusahaan berusaha untuk menguasai pangsa pasar dari produk yang mereka hasilkan guna mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang optimal perusahaan tidak hanya harus menyediakan infrastruktur yang memadai dalam kegiatan proses produksinya tetapi juga harus didukung oleh budaya kerja yang baik. Secara umum, budaya industri di Indonesia belumlah mengakar secara baik, hal ini mungkin disebabkan karena selama ini hanya berperan sebagai nelayan, petani, pelayan dan priyayi.

Sehingga menyebabkan banyak perusahaan atau industri yang belum siap menghadapi persaingan global. Hal ini dapat diketahui dengan masih adanya permintaan dari kalangan industri terhadap kebijakan proteksi terhadap produk yang dihasilkan. Rendahnya pemahaman budaya kerja yang baik dari tenaga kerja Indonesia menyebabkan rendahnya tenaga kerja yang terserap di dunia industri, terutama industri yang berbasis teknologi tinggi yang menuntut banyak persyaratan terhadap tenaga kerja.

Sebagai contoh disekitar industri manufaktur dan perusahaan di bidang jasa, masih banyak sekali yang belum mereka ketahui tentang sikap dan perilaku kerja yaitu terhadap waktu, tempat kerja, disiplin, kerapian, ketelitian, target kerja, kualitas dan sebagainya sering menjadi kendala dalam bekerja yang baik dan benar. Perilaku pekerja ataupun karyawan disuatu perusahaan masih ada yang kurang mendukung dalam kemajuan suatu perusahaan. Dimana ada beberapa karyawan yang datang ke kantor/workshop tidak tepat waktu atau bisa dikatakan telat. Hal ini bisa mengakibatkan jam efektif kerja dalam sehari bisa berkurang, tidak sesuai dengan target normalnya. Disamping itu, budaya kerja mekanik di workshop yang tidak bisa mengembalikan dan menata ulang peralatan-peralatan yang telah digunakan sesuai dengan keberadaan semula menjadikan salah satu faktor penghambat dalam kelancaran bekerja. Banyak peralatan-peralatan yang tidak tertata rapi dibengkel. Akibatnya ketika mekanik tersebut mencari salah satu peralatan membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan bila mekanik tersebut membiasakan menata ulang peralatan-peralatan tersebut. Hal ini menjadikan efisiensi waktu dalam melakukan pekerjaan kurang maksimal. Beberapa permasalahan yang ada seperti diatas salah satu penyebabnya yaitu perusahaan belum menerapkan managemen perusahaan/workshop dengan baik.

Managemen tersebut akan membuat regulasi yang baik dengan menggunakan metode tertentu. Sehingga perusahaan bisa meminimalisir kerugian pada perusahaan tersebut yang dikarenakan penggunaan waktu yang tidak efektif dan budaya kerja yang kurang baik. Diharapkan perusahaan mendapatkan profit yang cukup besar dari aplikasi beberapa metode/langkah kerja yang bisa mengatasi permasalahan diatas. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan efisiensi waktu kerja adalah dengan menerapkan budaya kerja 5S. Budaya kerja 5S ini berasal dari Jepang, 5S terdiri dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke.

Takashi Osada menyampaikan bahwa 5S adalah serangkaian aktivitas ditempat kerja seperti kegiatan pemisahan, penataan, pembersihan, pemeliharaan, dan pembiasaan, yang semuanya diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. “The five keys to a total quality environment” (Takashi Osada 2004). Selengkapnya bisa anda Download Here

Standar Internasional ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu – Persyaratan

Published by:

ISO 9001 – Quality Management Systems – Requirements: ditujukan untuk digunakan di organisasi manapun yang merancang, membangun, memproduksi, memasang dan/atau melayani produk apapun atau memberikan bentuk jasa apapun. Standar ini memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi apabila mereka hendak memperoleh kepuasan pelanggan sebagai hasil dari barang dan jasa yang secara konsisten memenuhi permintaan pelanggan tersebut. Implementasi standar ini adalah satu-satunya yang bisa diberikan sertifikasi oleh pihak ketiga.

, selanjutnya bisa anda Download Here

5S ke arah persekitaran berkualitas

Published by:

OBJEKTIF:
. Memahami apa itu 5S
. Memahami bagaimana untuk melaksanakan 5S
. Memahami bagaimana untuk
. memelihara 5S

APA ITU 5S:
. Berasal dari 5 huruf perkataan Jepun – Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu and Shitsuke
. Merupakan asas kepada sebarang program peningkatan
. Amalan biasa yang diterjemah secara sistematik

Hubungan 5S DAN ISO
6.4 Lingkungan Kerja
Organisasi hendaklah menentukan dan mengurus lingkungan kerja yang perlu, ada dan dapat menjamin kualitas layanan yang diperlukan, selanjutnya bisa anda Download Here

A Quality Improvement Plan

Published by:

• Define Five S’s as a quality tool
• Show how the Five S’s can benefit a company
• Explanation of each of the 5S’s
• What makes the Five S’s work
• United Electric’s use of the 5S’s
• Class Exercise
• The Five S practice is a technique used to establish and maintain a quality environment in a company by improving its’ organization.
• Improves efficiency of workplace
• Improves overall appearance of company
• Improves self-organization

get this file and Download Here

Super 5S is For Everyone

Published by:

Productivity Improvement is for Everyone

There are two contrasting approaches to improving productivity in companies:

  1. the gradualist approach – Kaizen
  2. the great-leap approach – Innovation

Kaizen means improvement. Moreover, it means continuing improvement in one’s personal life, home life and working life. When applied to the workplace, Kaizen means continuing improvement that involves everyone – managers and workers alike.

Japanese companies generally favor the gradualist approach and Western companies the great-leap approach. Innovation is dramatic, a real attention-getter. Kaizen, on the other hand, is often undramatic and incremental.

In fact, every Japanese company concentrates on Kaizen or an employee involvement program, because it is within the control of every manager and supervisor. It is less expensive than capital investment (innovation). It enhances the quality of work life; it recognizes participative management; it improves quality of products

and services; it reduces costs of operation, etc., read more this file and download here

ISO 14064: an emerging standard on Greenhouse Gas accounting and verification

Published by:

Identifying the need for an international standard on GHG accounting and

Verification

 

Governments, corporations and voluntary initiatives currently use a number of approaches to account for organization- and project-level greenhouse gas (GHG) emissions and removals. In mid-2002, the International Organization for Standardization (ISO) identified a need to standardize aspects of GHG accounting and verification to support the credibility, comparability and environmental integrity of existing and emerging regulatory (international, regional, national) and voluntary GHG schemes. Currently, the most widely used approach to preparing corporate GHG inventories is the Greenhouse Gas Protocol: a Corporate Accounting & Reporting Standard (GHG Protocol) developed under the auspices of the World Resources Institute (WRI) and the World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).

 

Several voluntary GHG registries have built scheme rules based on the GHG Protocol (eg, California Climate Action Registry, US EPA Climate Leaders, WWF Climate Savers). Existing (eg, UK Emissions Trading Scheme) and emerging (eg, EC Emissions Trading system) allowance-based regulatory systems have developed or are developing scheme rules for entity-level GHG accounting often consistent with the GHG Protocol. Recently, the WRI/WBCSD released a draft of its GHG Protocol Project Module and initiated the module’s “road test” across a range of GHG projects. Internationally recognized best practice guidelines on GHG verification currently do not exist.

 

ISO’s goal in developing standards for GHG accounting and verification is to provide a set of unambiguous, verifiable requirements or specifications to support organizations and GHG project proponents in using a quantification, monitoring and verification approach that ensures “a ton of carbon is always a ton of carbon”. ISO standards may also enable GHG scheme administrators to design systems using standardized “building blocks”, supporting the compatibility of rules and comparability and credibility of GHG quantifications, read more and download this file Here

Download this