Daily Archives: November 25, 2017

Panduan 5S- 5R dan langkah-langkah penerapannya

Published by:

Semua kantor pasti menginginkan tempat kerja yang selalu tampak bersih, rapi, dan setiap orang mempunyai kemauan dan kedisiplinan diri yang berbeda-beda, guna  mampu mendukung terciptanya tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi di tempat kerja. Namun kenyataannya keadaan seperti ini sulit terjadi di setiap tempat kerja. Tidak sedikit tempat kerja yang selalu mengeluh begitu susahnya dan tidak sedikit untuk membuang waktu hanya demi mencari data dan atau peralatan kerja yang lupa penempatannya. Bukan  itu saja, kita juga kurang nyaman dengan kondisi arsip-arsip di tempat kerja yang kurang rapi bahkan berantakan, sehingga hal ini dapat memicu kondisi emosional kita di tempat kerja.

Terdapat 5 (lima) langkah dalam penerapan 5R (5S) di tempat kerja yaitu : Ringkas, Rapi Resik, Rawat dan Rajin.

Penjelasan umum penerapan 5R (5S) tersebut antara lain :

  1. Ringkas
    • Memilah barang yang diperlukan & yang tidak diperlukan.
    • Memilah barang yang sudah rusak dan barang yang masih dapat digunakan.
    • Memilah barang yang harus dibuang atau tidak.
    • Memilah barang yang sering digunakan atau jarang penggunaannya.
  2. Rapi
    • Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan alur proses kerja.
    • Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan keseringan penggunaannya, keseragaman, fungsi dan batas waktu penggunaannya.
    • Pengaturan (pengendalian) visual supaya peralatan/barang mudah ditemukan, teratur dan selalu pada tempatnya.
  3. Resik
    • Membersihkan tempat kerja dari semua kotoran, debu dan sampah.
    • Menyediakan sarana dan prasarana kebersihan di tempat kerja.
    • Meminimalisir sumber-sumber kotoran dan sampah.
    • Memperbarui/memperbaiki tempat kerja yang sudah usang/rusak.
  4. Rawat
    • Mempertahankan 3 kondisi di atas dari waktu ke waktu.
  5. Rajin
    • Mendisiplinkan diri untuk melakukan 4 hal di atas.

selengkapnya dapat anda Download Here

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Published by:

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Hampir semua industri manufaktur dan jasa akan senantiasa dihadapkan pada kompetisi yang ketat sekali, dimana hal ini tidak hanya terjadi pada perusahaan yang memproduksi barang atau jasa sejenis tetapi hampir secara keseluruhan mengalami persaingan tersebut, hal ini didasarkan karena setiap perusahaan berusaha untuk menguasai pangsa pasar dari produk yang mereka hasilkan guna mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang optimal perusahaan tidak hanya harus menyediakan infrastruktur yang memadai dalam kegiatan proses produksinya tetapi juga harus didukung oleh budaya kerja yang baik. Secara umum, budaya industri di Indonesia belumlah mengakar secara baik, hal ini mungkin disebabkan karena selama ini hanya berperan sebagai nelayan, petani, pelayan dan priyayi.

Sehingga menyebabkan banyak perusahaan atau industri yang belum siap menghadapi persaingan global. Hal ini dapat diketahui dengan masih adanya permintaan dari kalangan industri terhadap kebijakan proteksi terhadap produk yang dihasilkan. Rendahnya pemahaman budaya kerja yang baik dari tenaga kerja Indonesia menyebabkan rendahnya tenaga kerja yang terserap di dunia industri, terutama industri yang berbasis teknologi tinggi yang menuntut banyak persyaratan terhadap tenaga kerja.

Sebagai contoh disekitar industri manufaktur dan perusahaan di bidang jasa, masih banyak sekali yang belum mereka ketahui tentang sikap dan perilaku kerja yaitu terhadap waktu, tempat kerja, disiplin, kerapian, ketelitian, target kerja, kualitas dan sebagainya sering menjadi kendala dalam bekerja yang baik dan benar. Perilaku pekerja ataupun karyawan disuatu perusahaan masih ada yang kurang mendukung dalam kemajuan suatu perusahaan. Dimana ada beberapa karyawan yang datang ke kantor/workshop tidak tepat waktu atau bisa dikatakan telat. Hal ini bisa mengakibatkan jam efektif kerja dalam sehari bisa berkurang, tidak sesuai dengan target normalnya. Disamping itu, budaya kerja mekanik di workshop yang tidak bisa mengembalikan dan menata ulang peralatan-peralatan yang telah digunakan sesuai dengan keberadaan semula menjadikan salah satu faktor penghambat dalam kelancaran bekerja. Banyak peralatan-peralatan yang tidak tertata rapi dibengkel. Akibatnya ketika mekanik tersebut mencari salah satu peralatan membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan bila mekanik tersebut membiasakan menata ulang peralatan-peralatan tersebut. Hal ini menjadikan efisiensi waktu dalam melakukan pekerjaan kurang maksimal. Beberapa permasalahan yang ada seperti diatas salah satu penyebabnya yaitu perusahaan belum menerapkan managemen perusahaan/workshop dengan baik.

Managemen tersebut akan membuat regulasi yang baik dengan menggunakan metode tertentu. Sehingga perusahaan bisa meminimalisir kerugian pada perusahaan tersebut yang dikarenakan penggunaan waktu yang tidak efektif dan budaya kerja yang kurang baik. Diharapkan perusahaan mendapatkan profit yang cukup besar dari aplikasi beberapa metode/langkah kerja yang bisa mengatasi permasalahan diatas. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan efisiensi waktu kerja adalah dengan menerapkan budaya kerja 5S. Budaya kerja 5S ini berasal dari Jepang, 5S terdiri dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke.

Takashi Osada menyampaikan bahwa 5S adalah serangkaian aktivitas ditempat kerja seperti kegiatan pemisahan, penataan, pembersihan, pemeliharaan, dan pembiasaan, yang semuanya diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. “The five keys to a total quality environment” (Takashi Osada 2004). Selengkapnya bisa anda Download Here