Author Archives: admin

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Published by:

Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke (5S) di Tempat Kerja

Hampir semua industri manufaktur dan jasa akan senantiasa dihadapkan pada kompetisi yang ketat sekali, dimana hal ini tidak hanya terjadi pada perusahaan yang memproduksi barang atau jasa sejenis tetapi hampir secara keseluruhan mengalami persaingan tersebut, hal ini didasarkan karena setiap perusahaan berusaha untuk menguasai pangsa pasar dari produk yang mereka hasilkan guna mencapai keuntungan setinggi-tingginya. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang optimal perusahaan tidak hanya harus menyediakan infrastruktur yang memadai dalam kegiatan proses produksinya tetapi juga harus didukung oleh budaya kerja yang baik. Secara umum, budaya industri di Indonesia belumlah mengakar secara baik, hal ini mungkin disebabkan karena selama ini hanya berperan sebagai nelayan, petani, pelayan dan priyayi.

Sehingga menyebabkan banyak perusahaan atau industri yang belum siap menghadapi persaingan global. Hal ini dapat diketahui dengan masih adanya permintaan dari kalangan industri terhadap kebijakan proteksi terhadap produk yang dihasilkan. Rendahnya pemahaman budaya kerja yang baik dari tenaga kerja Indonesia menyebabkan rendahnya tenaga kerja yang terserap di dunia industri, terutama industri yang berbasis teknologi tinggi yang menuntut banyak persyaratan terhadap tenaga kerja.

Sebagai contoh disekitar industri manufaktur dan perusahaan di bidang jasa, masih banyak sekali yang belum mereka ketahui tentang sikap dan perilaku kerja yaitu terhadap waktu, tempat kerja, disiplin, kerapian, ketelitian, target kerja, kualitas dan sebagainya sering menjadi kendala dalam bekerja yang baik dan benar. Perilaku pekerja ataupun karyawan disuatu perusahaan masih ada yang kurang mendukung dalam kemajuan suatu perusahaan. Dimana ada beberapa karyawan yang datang ke kantor/workshop tidak tepat waktu atau bisa dikatakan telat. Hal ini bisa mengakibatkan jam efektif kerja dalam sehari bisa berkurang, tidak sesuai dengan target normalnya. Disamping itu, budaya kerja mekanik di workshop yang tidak bisa mengembalikan dan menata ulang peralatan-peralatan yang telah digunakan sesuai dengan keberadaan semula menjadikan salah satu faktor penghambat dalam kelancaran bekerja. Banyak peralatan-peralatan yang tidak tertata rapi dibengkel. Akibatnya ketika mekanik tersebut mencari salah satu peralatan membutuhkan waktu lebih banyak dibandingkan bila mekanik tersebut membiasakan menata ulang peralatan-peralatan tersebut. Hal ini menjadikan efisiensi waktu dalam melakukan pekerjaan kurang maksimal. Beberapa permasalahan yang ada seperti diatas salah satu penyebabnya yaitu perusahaan belum menerapkan managemen perusahaan/workshop dengan baik.

Managemen tersebut akan membuat regulasi yang baik dengan menggunakan metode tertentu. Sehingga perusahaan bisa meminimalisir kerugian pada perusahaan tersebut yang dikarenakan penggunaan waktu yang tidak efektif dan budaya kerja yang kurang baik. Diharapkan perusahaan mendapatkan profit yang cukup besar dari aplikasi beberapa metode/langkah kerja yang bisa mengatasi permasalahan diatas. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam meningkatkan efisiensi waktu kerja adalah dengan menerapkan budaya kerja 5S. Budaya kerja 5S ini berasal dari Jepang, 5S terdiri dari seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke.

Takashi Osada menyampaikan bahwa 5S adalah serangkaian aktivitas ditempat kerja seperti kegiatan pemisahan, penataan, pembersihan, pemeliharaan, dan pembiasaan, yang semuanya diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. “The five keys to a total quality environment” (Takashi Osada 2004). Selengkapnya bisa anda Download Here

Standar Internasional ISO 9001:2015 Sistem Manajemen Mutu – Persyaratan

Published by:

ISO 9001 – Quality Management Systems – Requirements: ditujukan untuk digunakan di organisasi manapun yang merancang, membangun, memproduksi, memasang dan/atau melayani produk apapun atau memberikan bentuk jasa apapun. Standar ini memberikan daftar persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah organisasi apabila mereka hendak memperoleh kepuasan pelanggan sebagai hasil dari barang dan jasa yang secara konsisten memenuhi permintaan pelanggan tersebut. Implementasi standar ini adalah satu-satunya yang bisa diberikan sertifikasi oleh pihak ketiga.

, selanjutnya bisa anda Download Here

5S ke arah persekitaran berkualitas

Published by:

OBJEKTIF:
. Memahami apa itu 5S
. Memahami bagaimana untuk melaksanakan 5S
. Memahami bagaimana untuk
. memelihara 5S

APA ITU 5S:
. Berasal dari 5 huruf perkataan Jepun – Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu and Shitsuke
. Merupakan asas kepada sebarang program peningkatan
. Amalan biasa yang diterjemah secara sistematik

Hubungan 5S DAN ISO
6.4 Lingkungan Kerja
Organisasi hendaklah menentukan dan mengurus lingkungan kerja yang perlu, ada dan dapat menjamin kualitas layanan yang diperlukan, selanjutnya bisa anda Download Here

A Quality Improvement Plan

Published by:

• Define Five S’s as a quality tool
• Show how the Five S’s can benefit a company
• Explanation of each of the 5S’s
• What makes the Five S’s work
• United Electric’s use of the 5S’s
• Class Exercise
• The Five S practice is a technique used to establish and maintain a quality environment in a company by improving its’ organization.
• Improves efficiency of workplace
• Improves overall appearance of company
• Improves self-organization

get this file and Download Here

Super 5S is For Everyone

Published by:

Productivity Improvement is for Everyone

There are two contrasting approaches to improving productivity in companies:

  1. the gradualist approach – Kaizen
  2. the great-leap approach – Innovation

Kaizen means improvement. Moreover, it means continuing improvement in one’s personal life, home life and working life. When applied to the workplace, Kaizen means continuing improvement that involves everyone – managers and workers alike.

Japanese companies generally favor the gradualist approach and Western companies the great-leap approach. Innovation is dramatic, a real attention-getter. Kaizen, on the other hand, is often undramatic and incremental.

In fact, every Japanese company concentrates on Kaizen or an employee involvement program, because it is within the control of every manager and supervisor. It is less expensive than capital investment (innovation). It enhances the quality of work life; it recognizes participative management; it improves quality of products

and services; it reduces costs of operation, etc., read more this file and download here

ISO 14064: an emerging standard on Greenhouse Gas accounting and verification

Published by:

Identifying the need for an international standard on GHG accounting and

Verification

 

Governments, corporations and voluntary initiatives currently use a number of approaches to account for organization- and project-level greenhouse gas (GHG) emissions and removals. In mid-2002, the International Organization for Standardization (ISO) identified a need to standardize aspects of GHG accounting and verification to support the credibility, comparability and environmental integrity of existing and emerging regulatory (international, regional, national) and voluntary GHG schemes. Currently, the most widely used approach to preparing corporate GHG inventories is the Greenhouse Gas Protocol: a Corporate Accounting & Reporting Standard (GHG Protocol) developed under the auspices of the World Resources Institute (WRI) and the World Business Council for Sustainable Development (WBCSD).

 

Several voluntary GHG registries have built scheme rules based on the GHG Protocol (eg, California Climate Action Registry, US EPA Climate Leaders, WWF Climate Savers). Existing (eg, UK Emissions Trading Scheme) and emerging (eg, EC Emissions Trading system) allowance-based regulatory systems have developed or are developing scheme rules for entity-level GHG accounting often consistent with the GHG Protocol. Recently, the WRI/WBCSD released a draft of its GHG Protocol Project Module and initiated the module’s “road test” across a range of GHG projects. Internationally recognized best practice guidelines on GHG verification currently do not exist.

 

ISO’s goal in developing standards for GHG accounting and verification is to provide a set of unambiguous, verifiable requirements or specifications to support organizations and GHG project proponents in using a quantification, monitoring and verification approach that ensures “a ton of carbon is always a ton of carbon”. ISO standards may also enable GHG scheme administrators to design systems using standardized “building blocks”, supporting the compatibility of rules and comparability and credibility of GHG quantifications, read more and download this file Here

Download this

Daftar Kumpulan Regulasi SNI Sipil

Published by:

  1. SNI untuk perhitungan struktur
  • Beton
    • SNI 2847 2013 Persyaratan beton struktural untuk bangunan gedung    UNDUH
    • SNI 6816 2002 Tata cara pendetailan penulangan beton   UNDUH
    • SNI-7392-2008 Tata cara perencanaan dan pelaksanaan bangunan gedung menggunakan panel jaring kawat baja tiga dimensi (PJKB-3D) las pabrikan   UNDUH
    • Perencanaan struktur beton pratekan untuk jembatan   UNDUH
  • Baja  
    • SNI 1729 2002 Tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung   UNDUH
  •  Kayu
    • SNI  xxxx 2000 Tata cara perencanaan struktur kayu untuk bangunan gedung   UNDUH
  • Pembebanan
    • SNI 1727 2013 Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain  UNDUH
    • Pedoman perencanaan pembebanan untuk rumah dan gedung 1987  UNDUH
    • Ringkasan PPPURG 1987  UNDUH
    • Standart pembebanan untuk jembatan RSNI T-02-2005   UNDUH
  •  Gempa
    •  SNI 1726 2012 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung  UNDUH
    •  SNI 1726 2002 Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung  UNDUH
    • SNI 2833 2008 Standar perencanaan gempa untuk jembatan  UNDUH
  • Jalan Raya
    • Tata Cara Perencanaan geometrik jalan antar kota 1997  UNDUH
    • Pt T 01 2002 B Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur  UNDUH
    • Pd T 14 2003. Perencanaan perkerasan jalan beton semen  UNDUH
  1. SNI untuk rencana angaran biaya (RAB)
    • RSNI T-12-2002 Pekerjaan persiapan   UNDUH
    • SNI 2835 2008 Pekerjaan tanah   UNDUH
    • SNI 2836-2008 Pekerjaan pondasi   UNDUH
    • SNI 7394 2008 Pekerjaan beton   UNDUH
    • SNI 6897-2008 Pekerjaan dinding dan plesteran   UNDUH
    • SNI 2837-2008 Pekerjaan plesteran dan finishing   UNDUH
    • Pt-T-30-2000-C Pekerjaan kunci dan kaca   UNDUH
    • SNI 7395-2008 Pekerjaan penutup lantai dan dinding   UNDUH
    • SNI 2839-2008 Pekerjaan langit langit   UNDUH
    • SNI 7393-2008 Pekerjaan besi dan aluminium   UNDUH
    • SNI 3434-2008 Pekerjaan penutup atap  UNDUH
    • RSNI T 15 2002 Pekerjaan sanitasi   UNDUH
    • Pt T 38 2000 C Pekerjaan pengecatan   UNDUH
    • SNI 3434-2008 Pekerjaan kayu   UNDUH
  1. SNI untuk pengujian di laboratorium
  • Beton
    •  SNI 2823 1992 Metode Pengujian Kuat Lentur Beton Memakai Gelagar Sederhana Dengan Sistem Beban Titik Di Tengah  UNDUH 
    •  SNI 6429 2000 Metode pengujian kuat tekan beton silinder dengan cetakan silinder di dalam tempat cetakan  UNDUH
    •  SNI 3402 2008 Cara uji berat isi beton ringan struktural   UNDUH
    •  SNI 3419 2008 Cara uji abrasi beton di laboratorium  UNDUH
    •  SNI 4156 2008 Cara uji bliding dari beton segar  UNDUH 
    •  SNI 6369 2008 Tata cara pembuatan kaping untuk benda uji silinder beton  UNDUH 
    •  SNI 2491 2002 Metode pengujian kuat tarik belah beton  UNDUH 
    •  SNI 1972 2008 Cara uji slump beton  UNDUH 
    • SNI 1969 2008 Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat kasar  UNDUH 
    • SNI 1970 2008 Cara uji berat jenis dan penyerapan air agregat halus  UNDUH 
    • SNI 1971  2011 Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan  UNDUH 
    • SNI 1973 2008 Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton  UNDUH 
    • SNI 1974 2011 Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetak  UNDUH 
    •  SNI 1974 1994 Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder yang dicetak  UNDUH 
    • SNI 03-6813-2002 Tata cara pembuatan silinder dan prisma uji untuk menentukan kekuatan dan densitas beton agregat praletak di laboratorium  UNDUH 
  • Mekanika Tanah
    • SNI 3422 2008 Cara uji penentuan batas susut tanah  UNDUH
    • SNI 1964 2008 Cara uji berat jenis tanah   UNDUH 
    • SNI 1967 1990 Metode pengujian batas cair dengan alat casagrande  UNDUH  
    • SNI 3423 1994 Cara uji analisis ukuran butir tanah  UNDUH
    • SNI 3423 2008 Cara uji analisis ukuran butir tanah UNDUH
    • SNI 1744 1989 Metode pengujian cbr laboratorium  UNDUH 
    • SNI 1742 2008 Cara uji kepadatan ringan untuk tanah  UNDUH
    • SNI 1743 2008 Cara uji kepadatan berat untuk tanah  UNDUH
    • SNI 1965 2008 Cara uji penentuan kadar air untuk tanah dan batuan di laboratorium  UNDUH 
    • SNI 2813 2008 Cara uji kuat geser langsung tanah terkonsolidasi dan terdrainase  UNDUH 
    • SNI 2827 2008 Cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir   UNDUH
    • SNI 6424 2008 Cara uji potensi pengembangan atau penurunan satu dimensi tanah kohesif  UNDUH 
    • SNI 6792 2008 Cara uji kepadatan tanah di lapangan dengan cara selongsong  UNDUH
    • SNI 4142 1996 Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan no. 200 (0,075 mm)  UNDUH
    • SNI 2455 1991 Cara Uji Triaksial untuk Tanah dalam Keadaan Terkonsolidasi Tidak Terdrainase (CU) dan Terkonsolidasi Terdrainase (CD)  UNDUH
    • SNI 1738 2011 Cara uji CBR lapangan  UNDUH
    • SNI 1744 2012 Metode uji CBR laboratorium  UNDUH
    • SNI 1966 2008 Cara uji penentuan batas plastis dan indeks plastisitas tanah  UNDUH
    •  SNI 1967 2008 Cara uji penentuan batas cair tanah  UNDUH
    • RSNI 3638 20xx Metode uji kuat tekan-bebas tanah kohesif  UNDUH 
    • RSNI 3638 2012 Metode uji kuat tekan-bebas tanah kohesif  UNDUH 
    • SNI 4813 1998 Cara uji triaksial untuk tanah kohesif dalam keadaan tidak terkonsolidasi dan tidak terdrainase (UU)  UNDUH 
    • SNI 2815 2011 Cara uji tekan triaksial pada batu di laboratorium  UNDUH 
    • SNI 4153 2008 Cara uji penetrasi lapangan dengan SPT  UNDUH 
    • SNI 03-6795-2002 Metode pengujian menentukan tanah ekspansif  UNDUH 
    • SNI 03 4141 1996 Metode pengujian gumpalan lempung dan butir-butir mudah pecah dalam agregat  UNDUH 
    • SNI 03 1976 1990 Metode koreksi untuk pengujian pemadatan tanah yang mengandung butir kasar  UNDUH 
  • Jalan raya
    • SNI 1968 1990 Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar  UNDUH 
    • SNI 2439 1991 Metode pengujian kelekatan agregat terhadap aspal  UNDUH 
    • SNI 2434 1991 Metode pengujian titik lembek aspal dan ter  UNDUH 
    • SNI 2440 1991 Metode pengujian kehilangan berat minyak dan aspal dengan cara A  UNDUH 
    • SNI 2439 2011 Cara untuk menguji ketahanan penyelimutan film aspal pada permukaan suatu agregat  UNDUH 
  • Ilmu Ukur Tanah
    • SNI 3417-2008 Tata cara penentuan posisi titik perum menggunakan alat sipat ruang  UNDUH 
    • SNI 6724 2002 Jaring kontrol horizontal  UNDUH 
  •  Hidrolika
  1. Spesifikasi Teknis
    • SNI 3976 1995 Tata cara pengadukan pengecoran beton   UNDUH
    • SNI 2496 2008 Spesifikasi bahan tambahan pembentuk gelembung udara untuk beton   UNDUH 
    • SNI 3967 2008 Spesifikasi bantalan elastomer tipe polos dan tipe berlapis untuk  perletakan jembatan  UNDUH 
    • SNI 3967 2013 Spesifikasi bantalan elastomer tipe polos dan tipe berlapis untuk perletakan jembatan  UNDUH 
    • SNI 6818 2013 Spesifikasi bahan bersifat semen dalam kemasan, kering dan cepat mengeras untuk perbaikan beton (ASTM C928 – 09)  UNDUH 
    • SNI 4817 2008 Spesifikasi lembaran bahan penutup untuk perawatan beton  UNDUH 
    • SNI 03 4810 1998 Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di lapangan  UNDUH 
    • SNI 07 0329 2005 Baja profil I-beam proses canai panas  UNDUH 
    • SNI 07 2052 2002  Baja tulang beton  UNDUH 
    • SNI 03 6880 2002 Spesifikasi beton struktural  UNDUH 
    • SNI 03 6388 2000 Spesifikasi agregat lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas dan lapis permukaan  UNDUH 
    • Pd t 05 2004 b Pelaksanaan perkerasan jalan beton semen  UNDUH 
  1. Lingkungan
    • SNI 7645 2014  Klasifikasi penutup lahan ( bagian 1 skala kecil dan menengah)  UNDUH 
    • SNI 7645 2010  Klasifikasi penutup lahan  UNDUH 
    • SNI 1733 2004 Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan  UNDUH 

sumber

http://hms-unrika.blogspot.co.id/2016/06/kumpulan-sni-standar-nasional-indonesia.html