PENGERTIAN, OBYEK, METODE, DAN STRUKTUR PEMBAHASAN FILSAFAT Oleh : Sedijanti, PTIQ Jakarta


BAB I
PENDAHULUAN[1]
Keadaan dunia yang begini ini ada yang mewarnainya. Kekuatan yang mewarnai itu yang pertama ialah agama dan yang kedua ialah filsafat.
Sejarah telah mempertontonkan adanya manusia yang berani mati untuk dan karena agama yang dianutnya. Orang mengorbankan harta, pikiran, tena ga, atau nyawa sekalipun untuk dan karena kepercayaan yang dianutnya. Bilal semoga Allah meridhainya rela dijemur dan diapit dengan batu besar untuk mempertahankan ke­percayaan agama Islam yang dianutnya. Orang dengan tekun menabur bunga di kuburan, membakar kemenyan di tanah-tanah tinggi atau di pojok rumah untuk dan karena kepercayaannya. Ada pula orang yang rela mengubur anak perempuannya hidup-hidup karena ke­percayaan yang dianutnya. Demikianlah kenyataan adanya.
Selain kenyataan itu, sejarah telah mencatat pula adanya orang yang juga berani mati, karena meyakini sesuatu yang diperolehnya karena memikirkannya. Yang ini adalah pemikir atau filosof. Sesuatu dipikirkan sedalam  dalamnya, lantas suatu ketika ia sampai pada kesimpulan yang dianggapnya benar. Kebenaran ini mempengaruhi tindakannya; keyakinannya pada kesimpul annya tersebut membentuk sikapnya. Socrates sanggup mati dengan cara meminum racun sebagai hukuman baginya, karena mempertahankan kebenaran filsafat yang dianggapnya benar.
Dalam makalah yang singkat ini akan dibahas pengertian, obyek,  metode, dan struktur pembahasan filsafat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.    Pengertian Filsafat
Filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis, tentang objek yang abstrak logis, kebenaranya dipertanggung jawabkan secara logis pula. Jika diringkaskan dapat, juga dikatakan bahwa filsafat ialah pengetahuan yang logis yang tidak dapat dibuktikan secara empiris.[2]
Asmoro Hadi memberikan arti filsafat sebagai suatu proses refleksi bekerjanya akal, mengandung berbagai kegiatan, problema kehidupan.[3]
2.    Obyek Pembahasan Filsafat[4]
Isi filsafat ditentukan oleh objek apa yang dipikirkan. Objek yang dipikirkan oleh filosof  ialah segala yang ada dan yang mungkin ada, jadi luas sekali. Objek yang diselidiki oleh filsafat ini disebut :
a.     Objek materia, yaitu segala yang ada dan mungkin ada. Tentang objek materia ini banyak yang sama dengan objek materia sains. Bedanya ialah dalam dua hal. Pertama, sains menyelidiki objek materia yang empiris; filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bagian yang abstraknya. Kedua, ada objek materia filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir, yaitu objek mate­ria yang untuk selama-lamanya tidak empiris.
b.    Objek forma, ialah penyelidikan yang mendalam, filsafat ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Penyelidikan sains tidak mendalam karena ia hanya ingin tahu sampai batas objek itu dapat diteliti secara empiris. Objek penelitian sains ialah pada batas dapat diriset, sedangkan objek penelitian filsafat adalah pada daerah tidak dapat diriset, tetapi dapat dipikirkan secara logis. Sains menyelidiki dengan riset, filsafat meneliti dengan memikirkannya.
3.    Metode Pembahasan Filsafat
Ahmad Tafsir mengemukakan tiga macam metode pembahasan filsafat: yaitu metode sistematis, metode historis, dan metode kritis. [5]
a.    Menggunakan metode sistematis, dengan mendalami struktur pembahasan filsafat : epistemology, ontology, dan aksiologi filsafat.  Mula-mula dengan menghadapi teori pengetahuan (epistemology) beberapa cabang filsafat. Setelah itu ia mendalami teori hakikat (Ontologi), dan kemudian mendalami teori nilai (aksiologi)  filsafat. Dengan demikian setiap cabang atau subcabang dan aliran-aliran filsafat akan terbahas.
b.    Metode historis, yaitu dengan cara membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah, misalnya dimulai dari membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuan, teori hakikat, maupun dalam teori nilai. Lantas dilanjutkan dengan yang lain yang saat ini sampai Capra, dan seterusnya.
c.     Metode kritis (gabungan) digunakan oleh mereka yang mendalami filsafat tingkat intensif. Seseorang haruslah sedikit-banyak telah memiliki pengetahuan filsafat. Membahas filsafat dapat mengambil pendekatan sistematis ataupun historis. Langkah pertama ialah memahami isi ajaran, kemudian mencoba mengajukan kritiknya. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat juga berupa dukungan terhadap ajaran filsafat yang sedang dipelajari
Yuyun S. Suriasumantri mengemukakan metode pembahasan filsafat[6] : 
d.    Universal (menyeluruh), melihat filsafat dalam konstelasi pegetahuan yang lain;
e.     mendasar, tidak percaya begitu saja bahwa sesuatu itu sudah benar, tetapi perlu dikaji sampai mendasar;
f.     spekulatif, memulai sesuatu pengetahuan dengan asumsi bahwa penge tahuan itu benar, kemudian filsafat mencari tahu tentang kebenarannya.
g.    Dialectica : metode yang digunakan Socrates, yaitu dengan dialog; dialog  mempunyai peranan penting dalam mendalami filsafat. [7]
4.    Struktur Pembahasan Filsafat
Pembahasan filsafat meliputi tiga ranah pembahasan, yang disebut epistemology, ontology, dan aksiologi.
a.    Epistemologi[8]
Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Tatkala manusia baru lahir, ia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun. Nanti, tatkala ia 40 tahunan, pengetahuannya banyak sekali sementara kawannya yang seumur dengan dia mungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak daripada dia dalam bidang yang sama atau berbeda. Bagaimana mereka itu masing-masing mendapat pengeta­huan itu? Mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya? Hal-hal semacam ini dibicarakan di dalam epistemologi.
b.    Ontologi[9]
Setelah mengkaji cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek-objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek-objek itu dipikirkan secara mendalam sampai pada hakikatnya. Inilah sebabnya bagian ini dinamakan juga teori hakikat. Ada yang menama kan bagian ini ontologi.
Bidang pembicaraan terkait hakikat luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan.
Apa itu hakikat? Hakikat ialah realitas; realitas ialah kerealan; “real” artinya kenyataan yang sebenarnya; jadi, hakikat adalah kenya-taan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
c.    Aksiologi[10]
Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal :
1)    Filsafat sebagai kumpulan teori, filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Sebagai contoh  : jika Anda-umpamanya tidak senang pada komunisme maka Anda harus mengetahui lebih dahulu teori-teori filsafat Marxisme karena teori filsafat dalam komunisme itu ada di dalam filsafat Marxisme.
2)    Filsafat sebagai philosophy of life. filsafat dipandang sebagai pandangan hidup, fungsinya mirip sekali dengan agama. Nah, filsafat sebagai “agama” itu apa gunanya? Ya, gunanya sama dengan kegunaan agama. Dalam posisi ini filsafat itu menjadi jalan kehidupan.
3)    Yang amat penting ialah yang ketiga, yaitu filsafat sebagai methodol­ogy dalam memecahkan masalah. Menyelesaikan masalah itu melalui cara sains, pusat perhatiannya pada fakta empirik; biasanya penyelesainnya tidak utuh karena fakta empirik tidak pernah utuh. Alternatif orang menyelesaikan masalah melalui cara filsafat, berdasarkan hati nurani.
5.     Sismatika Pembagian Filsafat.
Ahmad Tafsir membagi sistimatika pembagian filsafat sebagai berikut[11] :
a.     Filsafat masa Yunani Kuno.
Filsafat pada masa Yunani Kuno ditandai dengan kelahiran filsafat Thale, Anaximander, Parmanides, Zeno, Phitagoras, Gorgias, Socrates, Plato dan Aristoteles. Filsafat Thales banyak dipengaruhi oleh mitos. Akan tetapi pada folosof sofis, akal benar-benar telah menguasai hidup orang Athena;
b.     Filsafat pada abad pertengahan : Plotinus, Augustinus, Anselmus, dan Thomas Aquino. Pada abad pertengahan, terutama sejak tahun 200 an, akal kalah total dan iman (agama Kristen) menang mutlak. Memang kitab suci Kristen tidak menghargai akal;
c.     Filsafat pada zaman modern : Renaissance, Rasionalitas (Descartes, Spinoza,, Leibniz), Idealisme Obyektif ( Fichte, Shelling, Hegel), Idealisme Theist (Pascal dan Kant), Empirisme (Locke, Hume, Spencer), Pragmatisme (Williams James), Eksistensialisme (Kierkegaard-Sartre).  Filsafat modern kembali pada akal. Rasionalis me Yunani mejadi satu-satunya cara berfilsafat pada zaman modern, kecuali pada Kant. Kant mengatakan akal ada daerahnya, dan hati ada daerahnya. Sains dan hati sama-sama dapat dipegang.
d.     Filsafat Islam : Kibab suci Al Qur’an menghargai akal dan hati. Orang-orang filsafat menggunakan takwil kearah rasio, dan sementara orang-orang tasawuf menggunakan takwil kearah rasa. Pada zaman ini timbul ahli-ahli tassauf seperti Hasan Al Bashri, Rabi’ah al  Adawiyah, Imam al Ghozali, Sufyan Al Tsauri, Abu Hasyim, dan Ibn Hasyim; 
e.     Filsafat pada zaman pasca modern. Filosof Arkoun, Derrida, Foucault, Wittgensen, Nietzsche, dan Capra. Capra melihat kekacauan disebabkan tidak digunakan paradigm yang utuh dalam merekayasa budaya. Dia menghendaki filsafat China I Ching digunakan memformu lasikan paradigma budaya dunia yang baru. Ahmad Tafsir berpendapat bahwa Islam lebih sempurna untuk digunakan memformulasi; karena Islam telah terbukti berhasil mambentuk masyarakat Madani zaman Rasulullah SAW, Abu Bakar, Omar; kemudian muncul lagi pada zaman Umar bin Abdul Aziz, dan Zaman Makmun di Baghdad. Sedangkan filsafat I Ching belum ada buktinya.
BAB III
ANALISIS
Filsafat dan agama dikatakan oleh Ahmad Tafsir sebagai dua kekuat an yang mewarnai dunia. Pandangan tersebut merupakan pandangan filsafat secara makro. Dari sudut pandang mikro, filsafat (akal) dan agama (hati) juga mewarna kehidupan seseorang.
Filsafat dan agama sebagai dua sisi kehidupan manusia. “Agama” pada satu sisi merupakan kehidupan manusia yang terletak di hati, sedangkan filsafat yang berasal dari “akal” juga sebagai suatu sisi kehidupan manusia terletak di otak. Kepada akal diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengenalNya dengan cara berpikir terhadap ciptaannya, bukan berpikir terhadap ZatNya. Sedangkan  pada hati yaitu hati nurani, Allah telah menganugerahi “rasa nurani”  yang bagaikan satelit  menangkap “sinyal-sinyal” keberadaan Tuhan pada diri mansusia.[12] Dalam agama Islam  keduanya akal dan agama diguna kan sebagai dalil , yaitu dalil Naqli dan dalil Aqli yang saling melengkapi.
Agama ditanamkan Allah SWT pada roh yang dititipkan Allah SWT dalam hati manusia.[13]  Allah SWT berfirman dalam surat Al A’raaf : 172     أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ , bukankah Aku Tuhanmu?; dijawab oleh roh :   بَلَى شَهِدْنَا, betul, Engkau Tuhan kami.
Antara filsafat yang merupakan produk akal dengan agama yang terletak di hati merupakan hidayah Allah SWT bagi seseorang, merupakan satu kesatuan perangkat kehidupan yang terdapat dalam (satu) diri manusia (yang normal). Akal seharusnya tunduk pada hati. Yang menjadi masalah adalah terdapat setan yang memisahkan antara akal dengan agama yang terletak di hati.
Pemisahan akal dengan agama terjadi sejak iblis tidak mau meme nuhi perintah Allah SWT untuk sujud kepada Adam AS. Iblis menggunakan “akal” untuk tidak sujud kepada selain Allah SWT. Dalam segi akal iblis barangkali benar, tetapi yang dibutuhkan adalah kepatuhan sebagai hamba ciptaanNya, bukan kebenaran menurut akal.
Bila satu saat akal tidak tunduk pada agama yang ada di hati dan  membuat maksiat, Allah Yang Maha Penyayang kepada manusia memberikan sesempatan untuk bertobat.
Rasulullah SAW bersabda :
“Bagi Allah rasa gembira yang lebih besar karena taubat hamba-Nya yang Mukmin daripada seorang yang berada di tengah bumi yang berupa padang pasir tandus dan membinasakan. Dengan binatang tunggangannya yang di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia tidur, dan ketika bangun binatang tunggangannya telah pergi. Dia mencarinya hingga sangat kehausan. Kemudian ia berkata, “Aku akan kembali ke tempatku semula di mana aku ada di dalamnya, lalu aku akan tidur hingga aku mati.”
Maka dia letakkan kepalanya di atas lengannya siap untuk mati. Waktu dia bangun dari tidurnya, dia mendapatkan binatang tunggangannya yang tadi pergi ada di dekatnya, di atasnya terdapat perbekalan, makanan, dan minumannya.
Maka Allah lebih besar kegembiraanNya karena taubat seorang hamba yang Mukmin daripada ini dengan binatang tunggangannya.” (Diriwayatkan Muslim)[14]
Dengan demikian manusia dapat kembali ke jalurnya yang benar, yaitu sebagai abdi Allah SWT :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)   
Adz Dzariyat : 56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
BAB IV
PENUTUP
Filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir logis, tentang objek yang abstrak logis, kebenaranya dipertanggung jawabkan secara logis pula.
Objek yang diselidiki oleh filsafati disebut objek materia, yaitu segala yang ada dan mungkin adadi; Selain objek materia, ada lagi objek forma, yaitu sifat penyelidikan. Objek forma filsafat ialah penyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalam nya.
Metode pembahasan filsafat: yaitu metode sistematis, historis, dan  kritis, universal,  mendasar, spekulatif, dialectica, sedangkan stuktur pembahasan filsafat adalah epistomologi, ontology, dan aksiologi.
Sistimatika pembagian filsafat dibagi menjadi : filsafat masa Yunani Kuno; filsafat pada abad pertengahan; filsafat zaman modern, filsafat Islam dan filsafat pada zaman pasca modern.
Secara mikro dapat dikatakan bahwa filsafat (akal) dan agama (hati) merupakan dua sisi kehidupan anak manusia; Kepada akal diperintahkan  Allah SWT untuk mengenalNya dengan cara berpikir;  sedangkan  pada hati, Allah telah menganugerahi “rasa nurani”  yang bagaikan satelit  menangkap “sinyal-sinyal” keberadaan Tuhan pada diri manusia.
Apabila manusia berdosa, Allah SWT membukakan pintu tobat mendapatkan ampunan, sehingga manusia kembali kepada jalan yang lurus,  yaitu sebagai hamba Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Al Qur’an, Syamil Al Qur’an. Bandung “ Kementerian Agama RI, PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2010
Efendi, Sofyan. Hadits Web.  Gema Insani Press, 2006.
Al Qasimi, Syaikh Jalaluddin. Buku Putih Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali , Bekasi : Darul Falah, 2005
Hadi Asmoro. Filsafat Umum , Jakarta  : RajaGrafindo Persada, 2011
Majalah Spritual Islam No2 Tahun 2013. Rasa Nurani, h. 46
Qusyairi, Imam. Risalah Qusyairiah, Jakarta : Pustaka Amani, 2007
Suriasumatri , Jujun S.. Filsafat Ilmu , Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999
Tafsir, Ahmad . Filsafat Umum , Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010


[1] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hh. 7-8
[2] Ibid. h.45
[3] Asmoro Hadi. Filsafat Umum (Jakarta  : RajaGrafindo Persada, 2011), hh. 9-10
[4] Ahmad Tafsir, op.cit. h. 21-22
[5] Ibid. hh. 20-21
[6] Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu  ( Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1999), hh. 20-22
[7] Ahmad Tafir, op.cit.  hh. 54-55
[8] Ibid. h. 23
[9] Ibid. hh. 28-29
[10] Ibid. hh. 42-43
[11] Ibid, hh. 47-265
[12] Majalah Spritual Islam No2 Tahun 2013. Rasa Nurani, h. 46
[13] Imam Qusyairi. Risalah Qusyairiah ( Jakarta : Pustaka Amani, 2007), h. 112
[14] Syaikh JalaluddinAl Qasimi. Buku Putih Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali ( Bekasi : Darul Falah, 2005), h. 546